ngabolang di kota kembang
Kita
adalah dua mahluk hidup yang bernapas dengan paru-paru,pemakan segala (yang
halal,dan bukan makan teman tentunya hahaha)
Kita
yang saya maksud disini adalah Ana Puspa Agustina. Sahabat karib saya sejak
SMA. Tepat setahun yang lalu saat kota Bandung berulang tahun kita memutuskan
untuk pergi kesana,karena waktu itu saya di Bandung melihat ada baligho
beberapa acara ulangtahun Bandung yang sangat sayang untuk dilewatkan. Dengan
bekal uang seadanya kita berangkat dari Ciamis,menumpang mobil sampai Garut.
Dari Garut,kita melanjutkan perjalanan menggunakan bis ¾ yang penuh,maklum hari
itu adalah weekend dan kita pergi terlalu sore. Macet hampir 2 jam. Mobil yang
kita tumpangi tak bergerak,rupanya ada perbaikan jalan. Saya dan Ana tidak
kebagian tempat duduk. Alhasil kita cuma bisa berdiri dan menyenderkan diri ini
ke pinggiran kursi. Kita tidak pernah kehabisan akal,daripada bengong ga jelas
mending kita bikin permainan. Dan akhirnya hanya kita berdua yang mengerti
bahasa permainan dan hanya kita berdua yang ketawa kegirangan.
Tadaaaa…
Akhirnya
kita pun sampai di Bandung,dengan 3 jam perjalanan yang ampuh membuat kaki kita
kesemutan. Angkot cicaheum-ledeng,kita menaiki angkot yang kece satu ini.
Tujuan kita adalah gedung sate,menurut baligho yang saya baca acaranya akan
dilaksanakan di gedung sate. Dengan wajah sumringah kita sudah membayangkan
akan betapa kerennya acara itu. Tapi,semuanya berubah ketika Negara api
menyerang. Area gedung sate sepi tak ada apapun,kita yang di angkot malah
bengong karena semua tak sesuai ekspektasi. Akhirnya kita memutuskan untuk
turun di depan kebun binatang bandung. Tujuan kita saat itu mau sholat,soalnya
waktu sudah menujukkan pukul 8 dan kita belum shalat magrib. Kita ikut shalat
di mesjid salman ITB. Setelah kewajiban sudah dilakukan,kita mulai berpikir mau
tidur dimana. Mulai menghubungi beberapa teman dan kerabat,ah tapi waktu sudah
menunjukan pukul 10,sepertinya kita kelamaan mikir sambil ketawa-ketawa
menertawakan ulah kita hari ini. Setelah rapat yang sangat pelik,sengit,dan
gitu wen lah. Akhirnya kita putuskan untuk tidur di mesjid,karena melihat ada
beberapa (sebenarnya banyak sih) orang yang tidur juga di dalam mesjid. Tapi,kita
ingin lebih dulu meredakan raungan cacing-cang di perut yang minta makan.
Maklum sepanjang perjalanan kita cuma minum air putih,yang telah habis dan
diisi ulang di area mesjid salman. Kita memutuskan untuk tidur diluar mesjid
saja,kebetulan masih banyak mahasiswa yang belajar bersama atau sekedar
mengerjakan tugas. Dan rasanya tidur diluar itu gengs,tiris serius. Menjadikan mukena sebagai selimut tidak banyak
menolong rupanya. Tugas saya adalah menjaga Ana ketika tidur dan hp nya yang
sedang di charge. Kita bagi 2 shift,bergantian tidur tiap 2 jam sekali. Iya da
kita teh kayak pekerja dibagi shift segala.
Pernah
nonton dunia lain? Dimana peserta harus menjaga lilin agar tetap tejaga. Dan
peserta harus kuat dengan segala godaan dari makhluk astral yang ada.
Nah,bedanya kita itu tipis. Salah satu dari kita harus menjaga teman yang tidur
beserta hpnya dan harus kuat melawan godaan nyamuk dan dinginnya udara bandung
malam hari. Harus bobo diluar sampai pagi rasanya tidak sangup kawan.
FYI,sebelumnya kita udah bilang dulu da sama orangtua masing-masing. Dan
Alhamdulillah,di acc. Mereka percaya kita mah kuat kayak Iron Man. Jadi
insyaallah bisa jaga diri.
Oke,balik
lagi ke cerita. Waktu sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Kita bergantian untuk
melakukan shalat tahajud. Untuk wudhu pun kita sulit membedakan itu air apa es.
Nah pas salah satu dari kita masuk ke mesjid,liat ada teteh-teteh yang tidur
disitu. Awalnya dia sendiri,tapi kemudian ada ibu-ibu juga yang ikut tidur.
Kita pun ga banyak mikir,langsung ikut tidur juga disitu. Dan tidur di dalem
itu hangat,tau tidur di dalem lebih hangat mah mending disini daritadi da,asli.
Selimut andalan kita masih sama,yaitu mukena. 30 menit sebelum shalat subuh
kita dibangunkan oleh pengurus masjid untuk mengingatkan agar menjalankan
shalat subuh berjamaah. Meskipun cuma tidur beberapa jam cukuplah untuk membuat
saya bermimpi.
Setelah
menjalankan shalat subuh,kita langsung pergi meninggalkan area mesjid. Tak lupa
dengan mengisi penuh air minum. Keliatan pisan musafirnya teh. Mandi? Ke
bandung aja dadakan. Kita cuma membasuh muka saja,biar tidak mengantuk dan biar
ga kucel. Ceritanya kita olahraga,muter-muter taman ganesha sambil stretching
dan akhirnya dede dede bayi cacing di perut sudah minta jatah makan pagi. Dan
tukang nasi kuning adalah pilihan kita. Cari aman,makanan yang ga bikin mual
sama aman dengan lidah kita. Setelah makan,saya mengantar Ana keliling ITB.
FYI,Ana belum pernah ke itb dan akhirnya saya ajak muter-muter sampai capek.
Mau
kemana lagi kita? Setelah capek keliling ITB dan setelah berunding kita
memutuskan untuk pergi ke braga. Ini adalah hasil dari musyawarah kita berdua.
Saya lupa lagi naik angkot apa dari ITB ke braga. Kalau penasaran nanti bisa
tanya Ana yah. Ongkosnya berapa pun bisa ditanyain,saya mah lupa da. Kita turun
di braga,foto-foto terus jalan kaki sampai ke alun-alun bandung. Nah itu alasan
kita ke braga,soalnya bisa ke beberapa spot sekaligus.
Panas,pada
saat itu matahari sedang terik-teriknya. Daripada kita ngeluh panas,mending
jajan rujak. Kita ngobrol banyak sama mamang tukang rujaknya. Tau asalnya dari
mana,punya anak berapa,di bandungnya tinggal dimana. Iya,da kita mah kepo. Tapi
kepo yang positif ya. Biar akrab dan ga kaku aja.
Di
tempat mamang rujak,kita ngobrol-ngobrol sama teteh-teteh yang berasal dari
padang. Iya,teteh-teteh itu jauh-jauh dari padang mau liburan di bandung. Keren
kan bandung wisatawannya dari mana-mana. Nah,teteh berdua itu pengen naik
bandros(bandung on the road bus) yang warnanya merah terus dua tingkat.
Kebetulan kita juga pengen naik itu,dan setelah dapet informasi dari beberapa
orang kita menuju balaikota untuk naik bus itu. Dan lagi lagi,pas kita kesana
busnya tidak ada. Setelah nanya ke bapak satpam nya,ternyata busnya disini cuma
parkir dan (kalau ga salah dan ga lupa) naik busnya itu di gedung sate. Ah,uang
kita sudah mulai sekarat,uang kita tinggal 100rb dan untuk berdua. Kalau
uangnya kurang,salah satu dari kita harus dieliminasi untuk pulang. Disinilah
letak pengorbanan kelaparan dan kesetiaan persahabatan diuji. Dan pada akhirnya
kita memutuskan untuk menikmati acara yang ada saja. Ternyata jauh-jauh ke
bandung tidak sia-sia juga. Kita masih bisa menikmati perayaan ulang tahun
bandung disini. Setelah puas menikmati acara dan foto-foto tentunya kita
memutuskan untuk segera ke terminal. Besok kita harus jualan kerudung di
alun-alun. Masa liburan kita telah selesai. Padahal,besok ada acara makan sate
gratis di salman. Ah,rupanya kita harus bisa konsisten dengan keputusan. Makan
sate bisa lain waktu lah.
Masalah
mandi?
Kebayang
ga,2 hari ga mandi,kucel,kumel,muter-muter bandung,kapanasan baunya kayak
gimana? Tidak terdefinisikan Hahaha
Perjalanan
kami berdua sangat menyenangkan,tak terduga,dan seperti biasa selalu dadakan.
Meskipun pada akhirnya kita berdua tidak jadi berjualan diakibatkan tepar,tapi
kita masih bisa menertawai pengalaman berharga itu. Perjalanan dan pengalaman
yang bisa kita ceritakan ke anak,cucu kita nanti.
Tsaaaaaah
*kibas poni* (minjem poninya Ana)
Fanny
Maulina
Ciamis,27
Oktober 2016
Komentar
Posting Komentar